Rencananya sih sholat Idul Fitri di lapangan Masaran. Yay! Kapan lagi suasana begitu terasa damai kalo enggak pas hari raya Idul Fitri gini ya? Pagi ini semua berjalan menuju lapangan dengan wajah yang sumringah. Ada yang karena baju baru, istri baru, pacar baru dan adapula yang karena hati baru. Hati yang lebih bersih karena dicuci oleh bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan.
Secuil Appetizer di Hari kemenangan
Dan pagi cerah ini dikala yang lain sudah berjalan menuju lapangan Masaran, keluargaku yang dianugrahi kotak tertawa yang luar biasa malah sempet-sempetnya ribut-ribut keluarga. Sekedar problematika sebuah pilihan hendak jalan kaki atau naek sepeda, ataupun numpang mobil sodara. Iya deh! Bapakku plin-plan sekali, dan begitu juga anaknya.
"Pak, kau naek sepeda motor kan? Bareng loh" dan bapakku mengiyakan. Dan aku asik-asik saja. Oke dah, semua sudah siap. Baju udah rapi, jam tangan keren, sajadah udah, cuma wajah yang kurang cakep. Yay! Tak apalah! Dan rempong cari sandalpun masih tetap rutinitas seperti biasa. Dan yang seperti biasa masih rempong adalah Ibu dan dua adekku masih sibuk dandan. Gitudeh! Dan ketika semua sudah siap, pada akhirnya malah bingung, apa nggak ikut naik mobil saja, tentu lebih enak! Eh tapikan banyak orang jalan, ntar kelamaan nyampe terus telat sholat ya. Nyebrangnya kan susah! Ya udah deh naik sepeda motor sesuai rencana deh. Oke sepeda motor sudah dikeluarkan dari garasi. Pintu jendela sudah dikunci, kita tinggal lets go gitu! Eh, tapi akhirnya, kita berjalan kaki. Kenapa plin plan sekali? Mungkin biar bisa ikut-ikutan berjalan dengan sumringah bersama yang lain mungkin. :')
Secuil Cerita Kecil di Hari kemenangan
Sholat selesai. Hendak pulang, dan bertemu om saya. Dan tentu dia menawari bareng naek mobil saja. Oke deh! Kami menepi ke dekat mobil. Menanti bulik dan sesupu saya yang lama sekali. Lalu melihat sekitar. Ada mobil, bis dan mereka yang terlihat sumringah walau belum diberi kesempatan sholat Idul Fitri kali ini bersama keluar. Tentu membayangkan mereka bisa bertemu sanak keluarga membuat mereka tetap bisa tersenyum seperti itu. Begitu pula saya, jika bulik dan sepupu saya datang, pasti saya senang sekali, mobil segera meluncur, dan segera nyampe rumah. Yay! Benar saja! Dan mereka datang, tapi bersama ibu saya dan adek-adek saya. Hendak tersenyum, namun tertahan.
Semua sudah masuk dalam mobil. Pas sekali. Tapi tanpa aku! Yah senyum mereka berubah menjadi ngakak! "Dadah mas... kamu jalan aja ya..." kata sepupuku dari dalam mobil seraya diikuti gelak tawa adek-adekku yang berhasil ngerjain kakak mereka yang paling ganteng ini. Hei! Hei! Aku coba menahan laju mereka, tapi sudah seperti sinetron saja. Tertinggalkan aku sendiri di sini. Lalu senyumku berubah menjadi ngakak. Menertawai diri sendiri. :D Yay berjalan ke rumah sendiri. Tega kalian!
Segudang Cerita Kita di Hari kemenangan
Dan sebelum berangkat ke rumah simbah, sempat kami berfoto keluarga bersama. Yay! Meratapi ataupun merayakan, kami tersenyum bersama. :) Kenapa meratapi? Apakah karena cerita-cerita mengenaskan yang saya paparkan sebelumnya. Tentu tidak! Perlu meratapi karena Idul Fitri berarti meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Bukankah kita seharusnya sedikit banyak kecewa ditinggal bulan Ramadhan? Tapi tentu senyum selalu hadir di antara kita di hari kemenangan. Karena mereka juga tersenyum, kita juga tersenyum! Entah menang atau tidak, kita merayakannya dengan senyum! Dan beberapa merayakan dengan berlebihan.
Dan beberapa orang bijak berhasil tetap membumi. Mereka tetap merayakan dan tersenyum, disertai meratapi Idul Fitri ini pikiran terbuka. Apakah itu kamu dan saya? Kita meratapi dengan merayakannya. Dan adapula dari kita yang merayakan dengan meratapi. Kita yang mana? Mari bertanya dengan pintar! :D
Jadi... Selamat meratapi Hari Raya Idul Fitri 1433 H bagi yang merayakan ya! Dan bagi yang merayakan Idul Fitri 1433 H, selamat meratapi juga ya! Mohon maaf lahir dan batin ya, maaf saya banyak sekali kesalahan dan dosa kepada kamu. Serius! Aku minta maaf...:')
Sragen, 19 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Meninggalkan jejak tidak dilarang karena eksistensi diri adalah lumayan.