Laman

Kamis, 17 Mei 2012

The Art of Burjo Worker

Burjo, alias Bubur Kacang Ijo, adalah suatu sebutan warung makan yang biasanya 24hours dan cukup jadi favorit kalangan mahasiswa. Tidak sesuai namanya,  menunya macem-macem sekali, nggak cuma Burjo. Di belakang kampus UNS dan sekitar ISI, sangat bertebaran warung Burjo semacam ini. Dan tentunya 24 jam. Dan entah sejak kapan saya cukup addicted untuk jajan di Burjo ini.


Tidak tahu hal ini berlaku sama di Burjo lainnya atau tidak, tapi di burjo langganan saya, ada hal-hal yang cukup menarik yang membuat saya betah untuk selalu langganan makan ke sana. Salah satunya adalah melihat mereka-mereka yang sangat luar biasa.


[tweet https://twitter.com/gizipp/status/203475973570707456 align='center']


Yup, luar biasa. Mereka itu masih muda. Umurnya rata-rata sama denganku, 22 tahun, atau bahkan lebih muda. Dan mereka cukup cakep-cakep, ramah-ramah, dan selalu murah senyum. Dan yang lebih dari itu,  mereka sangat rajin. Hampir semua pelayan di situ hampir tidak pernah nyantai-nyantai, dalam artian, selalu saja ada yang dikerjakan.


Ketika mereka sungguh bekerja keras, ternyata selain itu yang paling menyenangkan untuk dilihat adalah, senyum mereka dalam setiap kondisi. Mereka mungkin cukup lelah, tapi sangat jarang dari mereka terlihat mengeluh atau apapun itu. Disaat sangat melelahkannya pekerjaan mereka, namun mereka terlihat biasa saja atau mungkin cukup bahagia.


[tweet https://twitter.com/gizipp/status/203474110842544129 align='center']


Hal ini kadang sangat berbanding terbalik dengan mahasiswa masa kini. Sudah di biayai untuk apa-apa, dan selalu saja keluhan demi keluhan terluar dari mulut kita. Ya, faktanya makan di burjo dan mengamati ternyata mereka cukup bagus untuk menetralisir sikap buruk selalu 'tidak puas' kepada keadaan. :)

6 komentar:

wibisono mengatakan...

aku juga suka ke burjo. beli bubur kacang ijo. memang rata-rata usianya masih muda. Biasanya juga shift kerjanya.

majedha mengatakan...

aku maaiin yaa kakak :)

aku kalo makan di burjo pilih pilih, soalnya pernah ke salah satu burjo dan burjo yang aku beli udah asem rasanya =="

gizipp mengatakan...

Makasih mas Bison sudah mampir. :D Setelah baca2, ternyata sudah tradisi orang sunda tuk yg belum bisa nglanjutin sekolah terus kerja di semacam warung burjo. Terutama yang daerah Kuningan, merantau biasanya ke Jogja atau Solo.

gizipp mengatakan...

Wkwk... cari warung burjo yg rame dunk. Kalo rame pasti masak baru terus.

Apanya yang di maaiin? :O

arif rohmadi mengatakan...

iya..mereka masih muda-muda bisa ceria dan kerja tanpa kenal letih..disini yang masih mahasiswa udah dibiayai ortu masih sering mengeluh.. #renungan

gizipp mengatakan...

Berkat mereka akhir-akhir ini bisa :D

Posting Komentar

Meninggalkan jejak tidak dilarang karena eksistensi diri adalah lumayan.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *