Laman

Jumat, 13 April 2012

#1 Miniatur Gitar Itu... Jreeeeng!

Tentu saat itu yang terpikir adalah bagaimana seseorang siapapun itu terlihat keren sekali ketika memegang gitar.


Dan sampai saat ini, tentu aku masih berpikir itu keren.


Seorang pengamen berwajah kusam tak mandi tiga hari. Rambutnya kumal. Celananya sobek-sobek. Kulitnya coklat kehitaman nan berminyak. Dengan santai, ia ambil gitarnya, lalu bersenandung cerita hidup dengan petikan gitarnya.


Lantunan kata-kata yang ia dendangkan.


Alunan nada dan harmoni yang ia petik.


Lalu sedetik kemudian, dia terlihat bercahaya seperti malaikat turun dari langit. Keren sekali... gitarnya!


Aku sungguh pengen... gitarnya!


Iya... gitarnya!


Sungguh ini adalah cerita tentang gitar yang keren. Bukan cerita tentang aku yang keren, atau lainnya. Sungguh!


*posisi kunci E minor* *jreeeeng* *ngemil*


***


Liburan sekolah kala itu, aku ke Bali. Karena waktu itu masih SMP dan aku adalah pelajar, maka disebutlah study tour, biar terlihat lebih edukatif.


Atau ini adalah cara yang paling ampuh agar orang tua murid mendukung penuh acara ini?


Sebenarnya, keuangan keluargaku kala itu tak cukup bagus untuk bisa berpartisipasi aktif dan hore dalam kegiatan hura-hura seperti ini.


Bali? Ngimpi!


Namun berkat istilah study tour ini yang disodorkan kepada kedua orang tuaku, maka berdirilah aku di sini. Di pulau Dewata yang katanya eksotis itu. Dengan duit yang pas-pasan, kemampuan yang pas-pasan, dan keberanian yang pas-pasan pula.


Dan suasana di Sukawati Art Market ini cukup panas mengairahkan..


Tak sedikit wisatawan dan ataupun penduduk lokal memilih ber-partner kipas dalam menjalani aktifitas belanja dan dibelanjai. Ubud shopping mereka menyebutnya.


Dan tentunya, saat ini sangat ramai. Karena ini adalah pasar.


Umurku memang 13 namun aku cukup tahu 'market' itu English yang artinya pasar. Dan kata pasar, sangat identik dengan ramai. Begitupula kata ramai, juga identik dengan pasar. Setidaknya itu yang aku pikirkan ketika beberapa guruku berujar ""Ini kelas apa atau pasar, rame bener!!" saat kami kami membuat keributan di kelas.


Tapi kenapa harus bahas pasar sih?


Dan di pasar yang sangat ramai ini cukup membuat gementar seonggok calon pria sejati yang masih berumur 13 tahun ini. Aku, seorang kurus cengkring berada dalam hutan rimba versi modern. Lalu lalang manusia berdesakan. Bau keringat yang bercampur parfum semerbak batuk-batuk uhuk-uhuk. Panas terik disertai debu berterbangan bikin sesak.


Dan hutan rimba modern ini, aku tak awa kompas. Aku tak bawa peta. Waktu itu smartphone tidak sepopuler sekarang yang wajib dimiliki anak gaul.  Jangankan GPS atau Google Maps, bawa hape saja tidak. Aku hanya membawa kaki dan diriku sendiri.


Dan kemana aku melangkah, aku serahkan diriku sepenuhnya berserah diri kepada...


... teman-temanku.


Iya. Jadi, disinilah aku cuma ngikutin teman-temanku. Kemana mereka pergi, aku ikuti. Belok kanan, aku ikut, belok sembarangan, aku sikut.


Entahlah.


Yang jelas, saat itu ketakutan akan tersesat sangat mengganggu kenikmatanku berjalan-jalan di sini. Orang tuaku sudah berpesan untuk hati-hati disini. Jangan jalan-jalan sendirian. Karena nanti diculik. Kamu itu imut nak, jadi sadarlah. Pasti banyak yang ngincer. Aku pun mengangguk mengiyakan. Aku selalu percaya nasehat kedua orang tuaku adalah benar.

Aku berjalan... dan berjalan. Sambil melihat-lihat sekitar, mengamati dan mencari hal menarik. Tapi tentu lebih sering melihat teman-teman lainnya hendak kemana mereka karena sungguh diriku takut tersesat. Sungguh aku lebih terfokus pada dimana dan kemana akan teman-teman pergi. Mengamati teman-teman belanja apa, berkata apa, dan bertindak apa. Tak sempat aku mengamati souvenir-souvenir menarik untuk dibawa pulang. Ya karena aku tidak berniat membeli apapun karena uang saku yang pas-pasan.


Sampai ketika mata dan hatiku tertuju pada benda mungil itu. Terlihat keren sekali. Ialah... sebuah miniatur gitar.


Bukan gitar!


Tergeletak manis merayuku dengan mesra "Peluk aku! Peluk aku!" hingga aku luluh lantak tak kuasa menahan nafsu birahiku. Oh tidak!


Bersambung ya..  *Jreeeeeng*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Meninggalkan jejak tidak dilarang karena eksistensi diri adalah lumayan.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *